by

Polisi belum mengungkapkan motif penembakan Brigadir Jenderal J

-Hukum-0 views

JAKARTA (GATRANEWS) – Satuan Tugas Kepolisian Negara (Timsus) belum mengungkap motif penembakan Brigjen Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigjen J Pol Ferdy Sambo di kediaman mantan Kepala Divisi Propam Irjen, di Duren. Kantor Polisi Tiga di Jakarta Selatan.

Kapolri Pol Listyo Sigit Prabowo mengatakan dalam jumpa pers di Mabes Polri, Selasa malam terkait kasus Brigjen J, bahwa tim penyidik ​​masih mendalami motif penembakan tersebut.

“Untuk motifnya, saat ini saksi sedang diperiksa serta Ibu Putri. Oleh karena itu, saat ini kami belum bisa menyimpulkan,” kata Sigit.

Baca juga: Puluhan Polisi Diduga Pelanggaran Etik, Kata Kapolri

Namun, Kapolres mengatakan penyelidikan yang dilakukan oleh Timsus Polda telah mengungkapkan bahwa kejadian yang sebenarnya adalah penembakan, bukan baku tembak yang dilaporkan sebelumnya dalam insiden tersebut.

“Yang pasti ini pemicu utama pembunuhan itu, dan kesimpulannya tim sedang bekerja,” katanya.

Penyelidikan Timsus menyimpulkan bahwa Brigadir Jenderal J dibunuh, bukan ditembak. Demikian pula, penyidik ​​sedang mendalami laporan dugaan penganiayaan terhadap Putri Candrawati.

Baca Juga: Ferdy Sambo Disebut Baku Tembak di TKP Duren Tiga

Menurut mantan Kepala Satuan Reserse Kriminal Polri itu, keterangan ahli dan penyesuaian keterangan saksi diperlukan untuk mengungkap laporan dugaan penganiayaan.

“Mengenai motifnya, kami sudah sampaikan bahwa penyidikan masih berlangsung, dan tentunya selain menyesuaikan saksi, juga membutuhkan keterangan dari ahli, jadi tentu itu bagian yang harus kami lakukan,” katanya.

BACA JUGA: Ketua DPD RI Apresiasi Ketegasan Kapolri dalam Kasus Brigadir J

Polri telah menetapkan empat tersangka pembunuhan Brigjen J yakni Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E, Brigjen Ricky Rizal atau Bripka RR, Kuwat atau KM dan Irjen Pol. Freddy Sambo.

Keempat tersangka telah didakwa dengan pembunuhan sukarela berdasarkan Pasal 340 KUHP, sub-bagian 338 dan 55 dan 56, yang diancam dengan hukuman mati, penjara seumur hidup, atau penjara hingga 20 tahun.

Reporter: Laily Rahmawaty
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
Hak Cipta © Antara 2022

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.